22 TAHUN PAN MENGAWAL REFORMASI, REFLEKSI HUT 23 AGUSTUS 2020

PARTAI Amanat Nasional (PAN) lahir dari rahim reformasi. Partai ini didirikan dengan semangat memperjuangkan agenda reformasi, ikut terlibat dalam perjuangan politik demokratis untuk menciptakan pemerintahan yang baik (good governance), demi sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat dan kepentingan nasional.

Besok (23/8), 22 tahun sejak partai ini berdiri, PAN terus memperjuangkan tugas besar itu. Sembari terus mengawal demokrasi, partai ini berusaha hadir di tengah-tengah masyarakat untuk menjadi jalan keluar bagi berbagai persoalan yang tengah dihadapi bangsa. Kiprahnya selama 22 tahun membuktikan bahwa partai ini terus konsisten mengawal agenda reformasi dengan segala dinamika yang dihadapi.

Ada berbagai tantangan yang dihadapi partai ini untuk bisa memenuhi harapan konstituennya. Meski demikian, PAN terus berusaha mengedepankan kepentingan nasional di atas kepentingan organisasi, kelompok, maupun individu-individu di dalamnya. Partai ini ingin konsisten berjuang di jalur yang telah ditetapkan para pendirinya, menjadi partai yang terdepan dalam gagasan, serta berpegang teguh pada akhlak politik untuk seluas-luasnya kepentingan bangsa dan negara.

Politik Gagasan

Sejak didirikan Amien Rais dan kawan-kawan, PAN selalu identik dengan politik gagasan. PAN selalu tampil dengan ide-ide dan gagasan tulus untuk memajukan negeri. Politik yang ditampilkan partai ini adalah politik yang selalu berbasis pada argumen yang memadai, melalui proses kajian panjang dan matang, kemudian diejawantahkan melalui kerja-kerja politik yang terukur.

Tak mengherankan jika sejak berdirinya partai ini, turut bergabung di dalamnya para cendekiawan, ulama, akademisi, budayawan, seniman, aktivis, dan lainnya. Mereka-mereka yang bekerja dan berjuang dengan ide dan keyakinan spiritual, yang percaya bahwa reformasi dan demokrasi harus dipanglimai oleh gagasan. Untuk menyebut beberapa pendiri partai ini, selain Amien Rais, kita kenal sejumlah tokoh seperti A.M. Fatwa, Faisal Basri, Albert Hasibuan, Zumrotin, Tuty Herati, Goenawan Mohamad, dan lainnya.

Adalah fakta sejarah bahwa PAN juga lahir dari rahim Muhammadiyah, organisasi Islam modern dengan amal usaha terbesar di dunia. Tetapi, tidak lantas membuat PAN menjadi partai Islam. Melalui sejumlah pertimbangan, PAN menjadi partai nasionalis-religius yang terbuka. Dengan semangat inklusivisme, moderasi, dan demokrasi yang berkemajuan, partai ini memegang asas yang jelas, memperjuangkan akhlak politik berlandaskan agama yang membawa rahmat bagi sekalian alam.

Corak perjuangan PAN itu moderat. Jika bicara Islam, PAN mendukung gagasan Islam tengah, Islam wasathiyah. Yakni, Islam substantif yang memiliki semangat kemajuan, terbuka pada dialog, menjadi rahmat bagi sekalian alam (rahmatan lil alamin). Semangat ini pula yang menjadi ideologi politik PAN, menjalankan apa yang disebut Buya Hamka sebagai politik garam, bukan politik gincu.

Namun, harus diakui, dalam perkembangannya PAN mengalami berbagai dinamika. Tidak jarang PAN ditarik-tarik terlalu ke kanan dalam perjuangannya, membuat partai ini mengalami pasang surut dalam mengawal politik gagasan itu. Termasuk menjaga sikap moderatnya. Meski demikian, PAN tidak pernah kehilangan komitmen untuk berpegang teguh pada semangat para pendirinya, yang juga terhubung langsung dengan semangat para pendiri republik ini, maka ikhtiar kembali pada politik gagasan yang menjunjung tinggi akhlak politik berlandaskan agama dan menjadi rahmat bagi sekalian alam harus kembali digalakkan. Menjadi napas utama partai ini.

Kaderisasi Partai

Memasuki usia ke-23, PAN berkomitmen kembali pada spirit awal itu. Diiringi kerja modernisasi organisasi partai, kaderisasi menjadi kunci utama untuk kembali menanamkan ghirah terhadap politik gagasan ini. Kaderisasi juga menjadi penting untuk memahamkan kepada para pengurus, kader, dan simpatisan untuk selalu mengedepankan kepentingan nasional di atas kepentingan kelompok dan individu.

Keputusan-keputusan yang dibuat partai selalu berpijak pada pertimbangan-pertimbangan rasional yang memperhatikan aspek kepentingan nasional itu. Hal yang sama diharapkan menjadi perspektif yang dipakai pengurus, kader, dan simpatisan dalam melihat berbagai persoalan yang tengah dihadapi bangsa ini. Apa yang bisa dikontribusikan PAN untuk ikut mengawal demokrasi, mewujudkan cita-cita dan harapan besar masyarakat seluas-luasnya, harus menjadi landasan siapa pun yang berada di partai ini.

Maka, para kader khususnya yang mengemban amanah, baik di eksekutif maupun sebagai anggota legislatif, harus terus memperhatikan dapil masing-masing dengan perspektif kepentingan nasional. Para pengurus dari level DPC hingga DPP harus memiliki visi dan perspektif kebangsaan yang jelas, yang setia pada NKRI dan Pancasila, mewujudkan cita-cita luhur sebagaimana diamanatkan dalam preambul UUD 1945. Ciri khas PAN ada pada model perjuangannya, perjuangan politik yang mengedepankan akhlak politik.

Menjadi Solusi

Hari-hari ini kondisi bangsa sedang mengalami tantangan serius. Di tengah pandemi Covid-19 serta ancaman krisis multidimensional, partai politik dituntut untuk menjadi solusi bagi persoalan bangsa yang sedang dihadapi. Bukan memperkeruhnya dengan mengedepankan kepentingan kelompok dan golongan. PAN ingin hadir menjadi solusi itu, kader-kadernya harus tampil memberikan harapan dan jalan keluar bagi kesulitan rakyat. PAN harus menjadi yang terdepan dalam melakukannya.

Apa yang dilakukan kader-kader PAN DKI Jakarta serta anggota DPRD-nya bisa menjadi contoh sekaligus inspirasi. Di tengah kebutuhan masyarakat terhadap akses internet untuk mendukung anak-anak menjalani pembelajaran jarak jauh secara daring, kader-kader PAN di DKI bergerak memasang puluhan titik wifi gratis yang dapat digunakan masyarakat. Inisiatif yang baik itu kemudian diikuti DPC, DPD, dan DPW PAN di seluruh Indonesia, memasang puluhan titik hot spot internet gratis, juga membagikan smartphone bahkan laptop untuk masyarakat kurang mampu. Gerakan seperti ini yang harus menjadi ciri khas ke depan, peka, tanggap, dan cepat memberi solusi.

Pada 23 Agustus tahun ini PAN tepat berusia 22 tahun. Tak terasa pula 22 tahun partai ini mengawal reformasi. Ini saatnya kembali merapatkan barisan untuk mewujudkan cita-cita reformasi itu, bahkan lebih jauh lagi, memastikan transformasi bangsa ini menjadi bangsa yang besar dan maju. Pengurus, kader, dan simpatisan PAN di seluruh Indonesia harus bergandeng tangan, berjuang bersama memastikan agenda-agenda nasional itu terlaksana. Indonesia adalah rumah kita bersama, bukan hanya untuk sebagian orang dan golongan. (*)


*) Zulkifli Hasan, Ketua umum Partai Amanat Nasional