42 HARI MEMBERI ARTI

Ada cerita unik dari Kabupaten Tasikmalaya. Kota itu baru saja ditinggalkan salah satu pemimpin terbaiknya, Deni Sagara. Meski sebelumnya Wakil Bupati Deni hanya memimpin selama 42 hari saja. Wakil Bupati tersingkat di Indonesia!

Sebenarnya Deni Ramdani Sagara terpilih dalam rapat DPRD Kabupaten Tasikmalaya sejak Januari 2020 lalu. Karena Bupati Uu Ruhzanul Ulum terpilih menjadi Wakil Gubernur Jawa Barat, Wabup Ade Sugianto naik menjadi Bupati. Kursi Wabup otomatis kosong, Deni yang mewakili Partai Amanat Nasional (PAN) terpilih mengisi kekosongan itu.

Sayangnya prosesnya tidak mudah dan mulus. Pelantikan Deni tertunda lebih satu tahun karena satu dan lain hal, utamanya soal administrasi. Baru pada awal Februari 2021 Deni dilantik Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Ia menjabat selama 42 hari itu, mungkin bisa dapat rekor MURI untuk jabatan wakil bupati tersingkat di Indonesia.

Yang menarik adalah cerita selama 42 hari itu. Setelah dilantik Deni langsung ‘gaspol’ menjalankan tugasnya. Setiap hari ia turun ke masyarakat, memimpin rapat SKPD, membuat terobosan-terobosan penting yang mengangkat reputasi dan nama baik Kabupaten Tasikmalaya.

Hampir setiap malam Deni menginap di rumah warga, hingga ke pelosok-pelosok terjauh, mendengarkan aspirasi dan keluh kesah mereka untuk pelayanan publik yang lebih baik. Subuhnya Deni mengunjungi pesantren dan masjid-masjid untuk berbaur bersama para santri dan kiai. Pagi hingga petang Deni bekerja, memimpin rapat, melakukan kerja cepat untuk memberi solusi dari permasalahan-permasalahan yang ia temukan selama ‘ngendong’ (menginap di rumah warga) dan safari Subuh Berjamaah.

Dalam 42 hari itu Deni ikut terlibat mengatasi persoalan dari Covid19 hingga pembangunan pesantren. Ia bahkan sempat membawa satu program besar investasi perusahaan BUMN untuk pengembangan Internet desa. Kedepan desa-desa di Kabupaten Tasikmalaya akan lebih terkoneksi dengan Internet, harapannya memberi dampak ekonomi dan pemberdayaan.

Cerita tentang Wabup Deni, Wabup tersingkat di Indonesia yang hanya menjabat selama 42 hari bisa kita baca dan tonton di berbagai pemberitaan media. Atau bisa juga mengintip vlog yang dibuat Wabup Deni setiap hari dan diunggah ke akun media sosialnya. Semua itu membuat kita terkesan sekaligus berpikir: Jika 42 hari bisa memberi dampak, apalagi kalau lebih lama dari itu?

“Kehadiran pemimpin seperti ini yang kami rindukan selama ini di Kabupaten Tasikmalaya,” kesan seorang warga, “Kunaon teu ti baheula?” Kenapa nggak dari dulu, keluhnya.

Namun, mungkin memang itu yang bisa kita pelajari dari perjalanan Wabup Deni. 42 hari yang memberi arti. Jika lebih lama, kita tak tahu seperti apa ceritanya, mungkin tak seindah ini juga. Tapi apapun itu, untuk 42 hari kepemimpinannya, Wabup Deni layak mendapatkan apresiasi. Jodoh dan takdirnya ada di sana, waktunya sudah ditentukan Tuhan.

Hari ini, 42 hari itu berakhir. Wabup Deni harus meletakkan jabatannya. Tentu banyak hikmah yang bisa dipelajari, baik bagi Deni sendiri maupun masyarakat Kabupaten Tasikmalaya dan kita semua. Kadang proses politik itu menyebalkan, kejam dan dingin. Tapi kepemimpinan selalu punya ceritanya sendiri yang menghangatkan hati, betapapun sederhana dan absurdnya itu.

Mulai hari ini, di CV-nya, Deni Sagara bisa mencantumkan pengalaman sebagai wakil bupati. Pengalaman yang tak semua orang bisa dan pernah merasakannya. Apalagi itu hanya 42 hari, jadi wakil bupati tersingkat di Indonesia.

Selamat untuk Kang Deni. Selamat rehat sejenak untuk kemudian berjuang lagi. 42 hari sudah usai, ada ribuan hari berikutnya yang harus diperjuangkan.

Salam baik.

Fahd Pahdepie
Direktur Eksekutif Amanat Institute