AI Podcast

AI Podcast adalah program Amanat Institute yang akan menggelar diskusi-diskusi tentang anak muda bersama para pembicara keren dan inspiratif

8 September 2020 - Ai Podcast Episode 6

Peluang Kiprah Anak Muda Dalam Politik
Narasumber:
  • Eddy Soeparno: Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional

Jumlah populasi milenial yang mendominasi di Indonesia, posisi anak muda memiliki potensi yang besar dalam perpolitikan di Indonesia. Sejarah anak muda juga turut mewarnai sejarah politik di Indonesia.

Anak muda yang cenderung menjauhi politik karena perilaku politikus yang dianggap tidak baik bahkan di kasus tertentu membuat anak muda semakin apatis terhadap politik.  Eddy meresahkan rendahnya minat anak muda terhadap politik karena bagaimanapun the next generation of leaders adalah mereka.

Eddy menuturkan tiga penyakit di politik Indonesia yakni, money politics, dinasti politik, dan politik identitas. Dirinya menyoroti permasalahan money politics yang menurutnya tidak sekedar membagi uang saja tetapi esensinya adalah politik jalan pintas menuju kemenangan, pintas mendapat kursi, dan untuk menjabat.

Dibutuhkan pendidikan dari dua sisi. Dari sisi konstituen harus diberikan kesadaran politik bahwa apabila masyarakat diberi amplop dan diminta memilih salah satu kandidat berarti ia menggadaikan kedaulatan dan masa depannya untuk lima tahun ke depan. Sementara dari sisi kontestan harus diberikan pembelajaran kalau menggunakan cara politik uang akan mengeluarkan biaya yang sangat besar, bahkan harus mengorbankan hal-hal yang sifatnya esensial. Banyak sekali yang mengorbankan rumah demi kontestasi.

19 November 2020 – AI Podcast 5

Canda Politik
Narasumber:
  • Mumtaz Rais (Ketua DPP PAN)
  • Mamat Al-Katiri (Komika/Stand Up Comedian)

Politik adalah bagian dari kehidupan, dan salah satu elemen yang mewarnai kehidupan adalah humor. Terlebih, fakta unik lainnya adalah cara manusia merespon hal-hal unik dalam politik melalui humor sudah berkembang sejak zaman Romawi Kuno dan Yunani Kuno. Kemudian dari penelitian tahun 2018 oleh Jenny Davis dalam jurnalnya “The Political Work of Humour on Social Media” ditemukan bahwa penggunaan humor untuk merespon situasi politik melalui media sosial sudah menjadi trend baru, sekaligus menjadi salah satu sarana bagi anak muda untuk terus bisa mengikuti perkembangan politik.

Selama berlangsungnya podcast kedua figur saling melempar lawakan dan membalas hingga mengundang tawa. Sebelum berakhirnya podcast, Mamat mengemukakan bahwa selama ini dirinya yang membawa narasi seputar Papua dan perpolitikan dalam materi stand up miliknya dilatarbelakangi oleh keresahan dirinya terhadap isu-isu terkini khususnya yang bersinggungan dengan Papua. 

Mamat turut memberikan pesan moral bahwa politik itu bisa diibaratkan seperti pisau yang bisa digunakan untuk mengupas buah untuk dimakan dan membuat kita sehat, atau dapat digunakan sebagai pisau untuk ‘membunuh’ seseorang. Selain itu, Mamat turut berpesan jika kebebasan berpendapat masyarakat Papua sama pentingnya dengan siapa pun di Republik ini, tidak layak untuk direpresi bahkan dikriminalisasi hingga dianggap anti NKRI.

Mumtaz mengatakan bahwa dalam bermedia sosial tentu akan ada banyak konsekuensi, terlebih jika kita memberikan komentar yang kontroversial. Oleh karenanya kita harus berhati-hati dan berani untuk bertanggung jawab jika ada banyak respon yang mengarah pada kita di media sosial. Mumtaz juga berpesan kepada generasi muda agar tidak antipati terhadap politik, karena politik merupakan sumber dari segala sesuatu yang dilalui oleh hidup kita.

8 September 2020 - Ai Podcast 4

Kebijakan Pendidikan! Yang Bikin Uring-Uringan 
Narasumber:
  • Zita Anjani :Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta
  • Ai Nurhidayat : Pendiri Sekolah Multikulturalisme

Di tengah kondisi pandemi yang berkepanjangan, potensi krisis pangan akan mengancam dunia, termasuk Indonesia. Kedaulatan dan ketahanan pangan merupakan aspek penting dalam suatu negara. Regulasi yang berpihak kepada petani agar petani dapat bergairah dan menciptakan inovasi berupa penciptaan dan menggerakkan petani milenial menjadi konsern Slamet Ariyadi selaku anggota DPR RI Komisi IV. Slamet juga menyatakan aspek kepemudaan merupakan aspirasi yang akan ia prioritaskan terlebih di abad 21 pemuda menjadi kekuatan baru.

Cak Nanto mengawali perbincangan dengan menyorot stigma yang menganggap petani merupakan profesi yang terbelakang. Ia berpendapat penting untuk mengubah cara pandang anak muda dengan bonus demografi yang ada serta dengan stigma urbanisasi yang berlalu sangat panjang. Selama ini model pertanian di Indonesia masih cenderung konvensional sehingga sektor pertanian diibaratkan layaknya kerja rodi atau kerja fisik saja. Dengan hadirnya anak muda yang mampu mengelola teknologi dan sosial media, diharapkan dapat membantu negara dalam ketahanan pangan.

Pengelolaan pertanian maupun nelayan tidak dapat dilepaskan dari kontribusi bidang-bidang lainnya dan tidak bisa bersifat parsial. Harus hadir suatu roadmap yang jelas sehingga saling topang-saling dukung antar instansi tanpa harus saling mendahului.  Menurut Cak Nanto selama ini tidak melihat suatu kesatuan yang utuh di kepemimpinan Jokowi.

4 September 2020 – AI Podcast 3

Ketahanan Pangan di Era Pandemi? Beneran atau Cuma Angan-Angan ?
Narasumber:
  • Slamet Ariyadi (Anggota DPR RI 2019-2024)
  • Cak Nanto (Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah 2018-2022)

Di tengah kondisi pandemi yang berkepanjangan, potensi krisis pangan akan mengancam dunia, termasuk Indonesia. Kedaulatan dan ketahanan pangan merupakan aspek penting dalam suatu negara. Regulasi yang berpihak kepada petani agar petani dapat bergairah dan menciptakan inovasi berupa penciptaan dan menggerakkan petani milenial menjadi konsern Slamet Ariyadi selaku anggota DPR RI Komisi IV. Slamet juga menyatakan aspek kepemudaan merupakan aspirasi yang akan ia prioritaskan terlebih di abad 21 pemuda menjadi kekuatan baru.

Cak Nanto mengawali perbincangan dengan menyorot stigma yang menganggap petani merupakan profesi yang terbelakang. Ia berpendapat penting untuk mengubah cara pandang anak muda dengan bonus demografi yang ada serta dengan stigma urbanisasi yang berlalu sangat panjang. Selama ini model pertanian di Indonesia masih cenderung konvensional sehingga sektor pertanian diibaratkan layaknya kerja rodi atau kerja fisik saja. Dengan hadirnya anak muda yang mampu mengelola teknologi dan sosial media, diharapkan dapat membantu negara dalam ketahanan pangan.

Pengelolaan pertanian maupun nelayan tidak dapat dilepaskan dari kontribusi bidang-bidang lainnya dan tidak bisa bersifat parsial. Harus hadir suatu roadmap yang jelas sehingga saling topang-saling dukung antar instansi tanpa harus saling mendahului.  Menurut Cak Nanto selama ini tidak melihat suatu kesatuan yang utuh di kepemimpinan Jokowi.

17 Juli 2020 – AI Podcast 2

Sinergi Anak Muda, Majukan Bangsa
Narasumber:
  • Arif Rosyid (Komisaris Independen Bank Syariah Mandiri)
  • Abdul Hakim Bafagih (Anggota Komisi X DPR RI & Presiden Persik Kediri)

Anak muda memiliki daya kritis dan nalar serta daya juang yang tidak ada habisnya. Hadir dengan segala inovasi dan terobosan untuk kebaikan bangsa. Bisa kita lihat saat ini deretan start-up yang didirikan anak muda ternyata mampu menyelesaikan satu per satu masalah bangsa. Namun, di sisi lain anak muda saat ini kerap jalan sendiri-sendiri untuk mencapai visinya masing-masing. Sangat disayangkan memang, seharusnya sinergi anak muda yang memiliki kemampuan beragam dapat diolah sebagai harapan untuk memajukan bangsa.

Masalah tersebut adalah masalah kesenjangan, Arief mengatakan bahwa saat ini anak muda di Indonesia memiliki kesenjangan yang sangat tinggi dimulai dari akses Pendidikan, akses teknologi, hingga ekonomi dll. Terjadi kesenjangan yang sangat besar antara pemuda kota dan desa, jawa dan luar jawa. Mengurai kesenjangan menjadi hal penting demi tercapainya sinergi anak muda untuk memajukan bangsa.

Kemudian, Hakim mengatakan “jangan apatis, tidak usah lebay, atribut itu dilepas. sekarang jamannya kolaborasi bukan kompetisi,“ Dengan kemampuan beragam dan visi yang berbeda dari para anak muda kolaborasi menjadi pilihan yang realistis. Kolaborasi itu dapat terwujud dengan program atau kegiatan yang bisa berdampak pada masyarakat luas. Kolaborasi dan aksi-aksi bersama dari para anak muda harus dipupuk dan dibangun saat ini.

Kolaborasi adalah kunci, agar kelak anak muda tersebut bisa menjadi pemimpin dan melakukan koordinasi satu sama lain kedepannya. Dengan koordinasi yang optimal, segala hal yang mustahiil dapat terwujud.

3 Juli 2020 – AI Podcast 1

Anak Muda dan Gerakan Politik

Narasumber:

  • Athari Gauthi Ardi (Anggota DPR RI 2019-2024)
  • Muamar Vebry (Peneliti Ekonomi Politik)

Gerakan politik anak muda ibarat dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Anak muda dengan gerakan politiknya mampu menempatkan diri di posisi strategis sebagai motor penggerak perubahan zaman.  Anak muda saat ini didominasi oleh generasi milenial dan generasi Z yang memiliki karakter berbeda dengan para anak muda terdahulu. Menjadi menarik untuk melihat peran generasi milenial dan gen z dalam kaitannya dengan gerakan politiknya saat ini.

Anak muda saat ini sangat gandrung terhadap permainan online. Vebry menganalogikan anak muda melihat politik sebagai sebuah permainan. Menurutnya anak muda, melihat politik sebagai sebuah game kekuasaan. Ya politik ini adalah game kekuasaan. Kemampuan mereka dalam memanfaatkan digital tools dan digital power memperkuat daya tawarnya dalam politik praktis.

Sebuah kesadaran politik bagi Athari dapat terbentuk dan terwujud dalam sebuah gerakan politik berupa partai politik. Partai politik menjadi ruang untuk kita berkontestasi dan membangkitkan semangat anak muda untuk terjun dalam memengaruhi kebijakan ketika kita duduk di parlemen. Athari mengajak anak muda harus terlibat dalam partai politik mana pun.

Hal tersebut, menjadi sebuah contoh bahwa anak muda dan gerakan politik tidak hanya di kontestasi elektoral. Terlepas dari kedua ruang yang harus diisi oleh anak muda dalam politik baik itu di parlemen maupun gerakan ekstra parlemen.