MulAi Bersuara

MulAi Bersuara adalah Program dari Amanat Institute yang memberikan ruang berkumpul untuk mencurahkan gagasan terkait isu-isu hangat dengan perspektif anak muda.

Turkey I’m In Love – 11 Desember 2020

  • Host : Viera Rachmawati (Amanat Institute)
  • Cut Meurah Habiburahman (Mahasiswa S1 Prodi Sejarah, Sakarya University Turki & Beasiswa Turkiye Scholarships)

Negara Turki masih jadi primadona mahasiswa Indonesia yang ingin berkuliah di luar negeri. Hal ini didukung dengan banyaknya program beasiswa Turki di Indonesia. Negara Turki seakan menjadi magnet bagi mahasiswa Indonesia untuk menuntut ilmu di sana. Salah satunya Cut Meurah Habiburahman, seorang pemuda dari Aceh.

Beasiswa studi di Turki sangatlah banyak dan begitu banyak pendaftar setiap tahunnya. Cut memberi tips untuk mempersiapkan berkas-berkas persyaratan beasiswa terlebih dahulu secara seksama sebelum mendaftarkan beasiswa seperti surat rekomendasi, essay singkat yang berisi jawaban atas tiga pertanyaan mengenai tujuan kita ke Turki, mengapa memilih jurusan tersebut, dan apa feedback yang diberikan setelah lulus untuk negara.

Jejak sejarah hubungan peradaban Turki Ottoman dan kerajaan Aceh, Cut bahas dalam essaynya. Dirinya menceritakan hubungan kerja sama di abad 16 di mana tentara kesultanan Aceh kerap kali menyurati Ottoman baik dalam hal perdagangan rempah-rempah hingga hubungan bilateral. Bahkan ketika tentara Portugis sampai di Aceh, Aceh menyurati Ottoman untuk meminta bantuan, Turki Ottoman mengirim bantuan meriam dan tentara hingga Portugis di usir.

Namun yang unik adalah arsip-arsip surat hubungan antara Turki dan Aceh tidak ada satupun yang tertinggal di Turki sehingga sedikit peneliti di Turki yang membahas hal tersebut. Padahal, Turki Ottoman adalah salah satu kerajaan dengan pengarsipan terbaik. Bahkan hingga saat ini arsip Ottoman terdapat di badan pengarsipan Turki.

Passion in Politics – 4 Desember 2020

  • Host : Viera Rachmawati (Amanat Institute)
  • Narasumber : Ali Abidin CEO Insight Out

Berbicara tentang anak muda rasanya tidak jauh dari pembahasan passion. Sebuah kata yang ramai diperbincangkan beberapa tahun terakhir ini. Diberbagai ruang diskusi hingga acara motivasi banyak yang menganjurkan untuk bekerja mengikuti passion, ataupun menyarankan untuk menemukan passion masing-masing. Lalu sebenarnya apa itu passion dan dapatkah politik menjadi sebuah passion?

CEO Insight Out, Ali Abidin menekuni dunia people development sejak 18 tahun yang lalu. Membantu dan mempermudah orang untuk menemukan tujuan hdup dan menjalankan tujuan hidup mereka  adalah visi dalam hidup Ali. Kebutuhan dasar yang perlu dipenuhi seseorang yakni feeling significant dan feeling connected. Oleh karena itu, saat ini orang gemar menggunakan media sosial sehingga terkoneksi dengan orang lain dan mendapatkan perhatian.

Passion adalah sesuatu yang kita lakukan meskipun ada unsur pengorbanannya tapi kita rela untuk melakukannya. Kerelaan tersebut dilandasi oleh kecintaan kita terhadap hal tersebut.  Setiap orang memliki lebih dari satu passion dan apabila pekerjaan tidak sesuai dengan passion dalam diri, tidak perlu dipusingkan karena ada orang yang bekerja dengan passion dan ada pula orang yang bekerja hingga pekerjaan tersebut menjadi passion barunya.

Belajar Public Policy lewat Public Speaker Biar Nggak Jadi Public Enemy
– 27 November 2020
  • Host : Viera Rachmawati (Amanat Institute)
  • Narasumber: Ida Ayu Prasastiasih, Co-founder Into The Light Indonesia

Sebagai lulusan Komunikasi Universitas Airlangga, Sasti menyukai sosok Susi Pudjiastuti. Menurutnya cara berkomunikasi mantan menteri KKP tersebut yang lugas dan mudah dimengerti menjadi nilai plus bagi pemerintah jika ingin menyampaikan berbagai kebijakan dan arahannya bagi masyarakat.

Masalah komunikasi publik turut disoroti oleh Sasti, khususnya dalam penanganan masa krisis Covid-19. Jika diberikan kesempatan untuk bertemu Jokowi, Sasti menyampaikan keresahannya untuk pemerintah agar dapat memaparkan sebuah komunikasi publik yang jelas. Menurutnya berbagai kebingungan di masyarakat dan salah satu faktor kurang berhasilnya penanganan Covid-19 di Indonesia dimulai dari komunikasi publik yang masih buram.

Sasti menyoroti berbagai narasi yang dikeluarkan oleh pemerintah berupa imbauan tidak dapat terimplementasi dengan baik di masyarakat karena adanya kebingungan masyarakat. Pemerintah harus jelas dalam mendiseminasikan informasi kepada publik, khususnya di tengah situasi krisis.

Baginya, salah satu komponen kebijakan publik yang baik adalah yang bersumber dari local wisdom dan local genius dari wilayah setempat. Sasti bercerita saat dirinya mengunjungi salah satu desa di wilayah Jawa Barat yang menjadi desa percontohan demokrasi dan anti korupsi. Kebiasaan masyarakat setempat seperti ‘ngariung’ atau berkumpul dan bermusyawarah dalam membicarakan berbagai hal ternyata dapat ditransformasikan menjadi sebuah pengambilan keputusan.

Good News From Politics – 20 November 2020
  • Host : Viera Rachmawati (Amanat Institute)
  • Narasumber: Akhyari Harnanto, Good News From Indonesia (Founder & Editor in Chief)

Pemberitaan politik Indonesia rasanya dipenuhi oleh hal-hal negatif saja. Bagaimana pemberitaan positifnya? Akhyari Harnanto, pendiri Good News From Indonesia, akan membagikan pandangannya tentang pentingnya pemberitaan positif di media dan dampaknya bagi Indonesia.

Good News From Indonesia dibentuk atas pengalaman pribadi Akhyari, di antaranya adalah: merasa Indonesia masih kurang dikenal di dunia internasional, kurangnya informasi baik atau berita baik yang didapatkan yang kemudian menyebabkan pesimisme anak muda, lalu menganggap Indonesia tidak akan bisa maju seperti negara-negara maju lainnya.

Dari data yang dikumpulkan melalui riset yang dilakukan pada September 2009, ia berpikir ke diri sendiri, “someone has to do something about it”, lalu lahirlah GNFI. GNFI juga berkolaborasi dengan banyak elemen masyarakat seperti akademisi, pemerintah, tokoh agama, yang terpenting sama sekali tidak berpolitik. GNFI  berada di tengah-tengah dengan tujuan memberikan wacana baru bahwa Indonesia tidak hanya soal politik, ada juga persatuan di dalamnya.

Kondisi pemberitaan sekarang kekurangan berita yang imbang sehingga masyarakat kurang berpikir kritis. Berpikir kritis itu mempertanyakan semua hal dan melihat dari banyak sisi. Indonesia ini membutuhkan orang pintar. Kedua, orang yang kritis. Bayangkan semua orang menjadi pintar, maka apa pun yang akan dikeluarkan hasilnya pasti bagus. Apa pun yang kita dilakukan harus memberi pendidikan dan mencerdaskan. Anak muda Indonesia bisa mulai membiasakan banyak membaca, melihat situasi, menyebarkan hal baik, dan berdirilah tepat di tengah-tengah.

Jurnalistik yang Menggelitik – 13 November 2020
  • Host : Viera Rachmawati (Amanat Institute)
  • Narasumber : Tantri Moerdopo (News Anchor Mero TV, Policy Communication Specialist)

Dunia jurnalistik tidak sekedar tampilan di layar kaca semata, namun juga menyangkut perjalanan panjang di belakang layar yang jarang diketahui. Pekerjaan jurnalistik adalah pekerjaan yang penuh resiko terlebih, para jurnalis kerap kali ditugaskan untuk meliput di daerah rawan.

Menjadi news anchor berarti harus bisa dipercaya, harus terlihat matang, harus terlihat dewasa dan percaya diri. Gerak tubuhnya, gerak mata menatap langsung. Lebih dari 50 persen yang dilihat pertama kali adalah visual baru kemudian isinya. Dinamika politik redaksi mengenai berita yang ditayangkan tidak terlepas dari preferensi latar belakang organisasi. Tantri tidak menafikkan hal yang berkaitan politik di tempat kerja dan terjadi tidak hanya di Indonesia. Dirinya mengatakan profesionalisme terjadi ketika kita dapat membawa diri untuk fleksibel ketika berada di suatu institusi.

Saat ini nilai dunia jurnalistik di Indonesia cenderung bergeser dan mengedepankan show dengan cara mencecar, bahkan menjatuhkan narasumber. Harapan agar jurnalistik kembali ke titik nol dan menempatkan jurnalis sebagai moderator yang menggali informasi dari narasumber. Tantri berharap etika seorang jurnalis mengenai narasumber dihadirkan bukan untuk di jatuhkan, di cari kesalahannya, ataupun dihakimi. Tetapi narasumber di hadirkan untuk mencari titik sumber dan mencari informasi.

Kembali Bareng Bli – 6 November 2020
  • Host : Viera Rachmawati (Amanat Institute)
  • Narasumber : Ngakan Yudha Pratama pemilik Helshoes Pengusaha Bali

Pandemi Covid-19 memiliki dampak di semua lini kehidupan mulai dari Industri hiburan, restoran, sampai pariwisata, semua mengalami penurunan tajam dari sisi pendapatan. Pulau dewata sebagai pulau yang mengandalkan sektor pariwisata sebagai penggerak ekonomi pun turut terkena dampak hebat dari pandemi Covid-19 ini. Para wisatawan domestik dan mancanegara tidak dapat berlibur ke Bali akibat adanya pembatasan-pembatasan yang ada.

Ngakan Yudha Pratama pemilik Helshoes, pengusaha Bali yang bergerak di bidang pencucian helm dan sepatu. Bisnis yang dijalani Ngakan saat ini bermula dari hobi yang dia miliki. Usaha yang dikenal saat ini, tidak terlepas dari sebuah ide yang berhasil diwujudkannya.

Ngakan pun terdampak dengan adanya pandemi ini. Dirinya mengatakan Bali sudah benar-benar mati suri karena hanya bertumpu pada pariwisata. Pembicaraan yang lebih luas mengenai pariwisata di Pulau Bali, Ngakan melihat banyak permasalahan krusial perlu diatasi dari pariwisata Bali seperti orang Bali yang sudah tidak ramah turis, hingga anak muda Bali yang perlahan mulai meninggalkan budaya Bali.

Bangsa Indonesia harus bersatu untuk melewati masa-masa sulit saat pandemi. Pesan Ngakan untuk anak muda adalah harus memiliki konsistensi mental yang kuat, dan siap untuk selalu belajar. Ngakan mengatakan jangan pernah menganggap kepuasan pencapaian, harus tetap belajar dan meraih ilmu baru.

Keresahan dalam Keindahan – 23 Oktober 2020
  • Host : Shinta Saragih (Brand Creative Strategist Amanat Institute)
  • Narasumber : Wisnu Ajitama (Seniman)

Hening di tengah bising, itu yang menjadi gagasan bagi Wisnu Ajitama, seorang seniman yang sudah memperkenalkan karya seni lokal hingga mancanegara. Pria lulusan Universitas Negeri Yogyakarta dan Institut Seni Indonesia ini bisa dikatakan sudah cukup lama berkecimpung di dunia seni, bahkan hingga menggaet atensi dari manca negara, salah satunya adalah karya seni rupa miliknya yang dipamerkan pada 2018 dan 2019 lalu di Korea Selatan.

Menurutnya seni dapat menjadi alat kampanye mengungkapkan kegelisahan atau memperjuangkan sesuatu. Hal tersebut tergambar dari hasil karya seni yang Wisnu kampanyekan seputar konflik Korea. Dalam salah satu karya, Wisnu menggambarkan sebuah pohon yang berada di tengah wilayah konflik antara Korea Selatan dan Korea Utara. Pohon merupakan representasi alam yang menghentikan konflik itu secara natural, dan berusaha untuk memperbaiki berbagai kerusakan yang diperbuat selama ini.

Wisnu menyebut dirinya sebagai seorang petani seni. Hal tersebut dimulai atas inspirasi yang didapatkan dari wilayah pedesaan, yang menjadi basis inspirasi baginya dalam berseni. Dengan melihat aktivitas masyarakat desa khususnya petani yang bekerja hingga berkeringat, dirinya menggambarkan seluruh pekerjaan seni yang ia geluti ibarat sosok petani yang sedang bergelut dalam rutinitasnya, jadilah Wisnu seorang Petani Seni.

Banyak local genius dan local wisdom yang bisa diartikulasikan menjadi sebuah seni rupa, hal itulah yang terus mendorong Wisnu untuk tetap berkarya dari desa. Melalui perjalanan seni Wisnu yang berawal dari desa hingga mendunia, hal tersebut bisa menjadi pengaruh positif bagi kita untuk terus melihat jika inspirasi sekecil apapun dapat membuat kita melambung tinggi.

Love Lust and Life in France – 16 Oktober 2020
  • Host : Viera Rachmawati (Amanat Institute)
  • Narasumber : Icha Ayu (Diaspora RI di Perancis) Youtuber, Vlogger, Penulis

Icha Ayu membagikan pengalaman kehidupannya mulai dari cara kerja orang Perancis, sulitnya beradaptasi dan mencari teman, hingga kondisi Pandemi Covid-19 di Perancis yang mengkhawatirkan. Icha mengawali diskusi dengan cara pandang orang Perancis terhadap pekerjaan yang menurutnya unik dan berbeda. Dirinya membandingkan cara pandang di Amerika orang hidup untuk kerja, namun sebaliknya di Perancis memandang kerja untuk hidup, bukan hidup untuk kerja. Hubungan rekan kerja di Perancis jauh berbeda dengan di Indonesia.

Bagi orang Indonesia yang belum pernah ke Perancis dan ingin berkunjung ke Perancis, Icha memberikan tips salah satunya yaitu selalu mengucapkan Bonjour. Icha menjelaskan kata Bonjour menjadi aturan tidak tertulis di Perancis, mengibaratkan kata Bonjour sebagai magic word. Hal yang bisa dibawa Indonesia ke Perancis yakni etos kerja yang baik. Menurutnya sekali perusahaan memperkerjakan orang Indonesia, biasanya mereka senang dan mempekerjakannya kembali. Orang Indonesia dianggap pekerja keras.

Fakta lainnya mengenai Perancis menurut Icha yaitu adanya freedom of speech yang sangat dihargai, terlebih deklarasi human rights berlangsung di Perancis. Kebebasan berpendapat sangat dihargai sehingga seseorang bisa mengatakan apapun dan tidak dikriminalisasi. Namun apabila ingin menjadi YouTuber di Perancis, maka dikenakan pajak oleh negara karena pekerjaan YouTuber dikategorikan sebagai wiraswasta.

Situasi pandemi di Perancis cukup parah hingga pemerintah setempat melakukan lockdown selama tiga bulan kecuali ada keperluan yang esensial. Pemberlakuan jam malam pada 8 kota dari pukul 9 malam sampai 6 pagi. Apabila melanggar maka akan didenda 135 Euro untuk pelanggaran pertama dan 1.500 Euro untuk pelanggaran berikutnya. Pandemi mengakibatkan krisis ekonomi di mana-mana.

Musik Sebagai Jembatan Kritik Sosial– 9 Oktober 2020
  • Host : Damar Komodo (Amanat Institute)
  • Narasumber : Raynard Koibur/Odi Man (Mahasiswa Berklee College of Music AS)

Odi Man seorang musisi Indonesia yang saat ini sedang mengenyam pendidikan sebagai mahasiswa Berkeley College of Music di Boston Amerika Serikat. Odi bercerita selama ia berada di AS saat pandemi justru merasakan banyak demonstrasi seperti Black Lives Matter, Pilpres 2020, dan lainnya.

Baginya situasi pandemi saat ini menjadi tantangan lebih buat para musisi khususnya dirinya untuk dapat berkarya. Karena memang jarang untuk bisa bertemu orang secara langsung, banyak musisi yang mulai beralih membuat karya hanya melalui bincang-bincang visual dengan tim sehingga karya yang dihasilkan tidak bisa sepenuhnya memenuhi ekspektasi. Selain itu inspirasi yang didapat menjadi terbatas karena mayoritas kegiatan berlangsung di rumah.

Sebagai sebuah karya seni, musik bisa menjadi salah satu sarana kritik sosial, begitu pula yang dipikirkan oleh Odi. Kritik dalam dunia rap bisa dimulai dari hal terdekat dan terkecil seperti lingkungan sekitar, bahkan keluarga. Justru menurutnya kalau terlalu mengkritik dengan luas hal tersebut dapat memperkeruh situasi yang ada. Baginya musik bisa saja menjadi gerakan politik, tapi harus ada prasyarat yang dipenuhi yaitu figur yang menyuarakan atau penyanyinya adalah sosok yang sudah populer. 

Odi mengungkapkan musisi terkenal adalah senjata yang ampuh untuk menggaet simpati publik. Karena sosok tersebut memiliki pengaruh yang besar serta pengikutnya pun akan menganggap statement dari sosok itu sebagai panutan.

Musisi muda asal Papua ini turut menyuarakan keresahannya kepada pemerintah khususnya yang berkaitan dengan dunia seni terlebih musik.