BELAJAR DARI ZULKIFLI HASAN

Baru satu tahun saya mengenal dekat Pak Zulkifli Hasan, Wakil Ketua MPR RI sekaligus ketua umum Partai Amanat Nasional (PAN), tapi dalam 365 hari itu saya belajar begitu banyak hal. Sosok Pak Zul memberi saya inspirasi tentang menjadi individu yang memberi dampak dan kebaikan bagi banyak orang, tentang pemimpin yang seluruh hidupnya dicurahkan untuk kepentingan umat dan bangsa.

Maret 2020 saya pertama kali berjumpa di kediaman beliau di Kompleks Menteri Widya Chandra. Saya masih ingat waktu itu Pak Zul sedang bersiap akan berolahraga. Saya datang membawa buku yang saya tulis, memperkenalkan diri, lalu menyampaikan niat ingin belajar. Prof. Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah, yang meminta saya menemui Pak Zul saat itu, “Fahd harus belajar dari Bang Zul,” pesan beliau.

Sambutan Pak Zul sangat ramah dan bersahabat. Saya tak mengira suasananya akan secair itu. Dengan senyuman yang tak pernah lepas, sesekali disisipi canda dan tawa, Pak Zul langsung bertanya, “Iya, kemarin saya ketemu Pak Haedar di Jogja. Jadi apa yang bisa saya bantu?” Giliran saya justru keder ditanya seperti itu. Yang bertanya ini tokoh besar, pejabat tinggi negara, ketua umum partai politik.

Entah mengapa saya hanya bisa menggelengkan kepala. Saya berusaha memilih jawaban yang tepat. Tak ingin salah langkah. “Niat saya belajar, Pak. Tapi saya siap berjuang.” Saya mencoba meyakinkan. Belajar dan berjuang saya kira adalah dua hal yang harus saya sampaikan.

Pak Zul menatap saya sejenak. “Oke, kamu bantu saya saja. Main-main yang sering ke sini.” Tentu saya tak bisa menolak. Hanya mengangguk sambil berujar, “Siap!”

Hari-hari berikutnya saya mulai sering main ke kediaman Pak Zul. Memulai semuanya dengan sangat rikuh, protokoler, takut salah. Tapi lama-lama kekhawatiran saya terasa tak beralasan. Di sana saya selalu diterima dan diperlakukan dengan baik. Bahkan mengobrol hingga berjam-jam sampai larut malam.

Dari obrolan-obrolan dan diskusi dengan Pak Zul saya bisa menangkap kecintaannya yang besar pada Republik ini. Kecemasan dan kegelisahannya selalu tentang umat dan bangsa. Jarang sekali tentang masalah pribadi atau hal-hal remeh temeh mengenai orang per orang. Pak Zul selalu berbicara ide-ide besar, harapan-harapan terbaiknya tentang bangsa dan negara.

Pada saatnya, saya diminta mengelola Amanat Institute. Lembaga ‘think tank’ yang berfokus pada anak muda. Menurut Pak Zul, kepemimpinan dan masa depan bangsa ini ada di tangan anak-anak mudanya. Dari presentasi ke presentasi, melewati aneka diskusi dan persiapan panjang, Agustus 2020 akhirnya Amanat Institute diluncurkan. Pak Zul sendiri yang meresmikannya.

Meski memimpin AI, niat saya belajar pada Pak Zul tak pernah berubah. Saya terus menemani beliau untuk belajar dari dekat, banyak mendengarkan dan sesekali mencatat di ‘handphone’. Saya mencatat ide-idenya tang keislaman, keindonesiaan dan kebangsaan. Pikiran-pikirannya mengalir jernih, tegas, kadang tanpa tedeng aling-aling. Jika berpegang pada keyakinan, Pak Zul selalu menunjukkan daya tarung yang tak kenal kompromi.

“Indonesia ini butuh Islam Tengah, Islam wasthiyah,” ujar beliau suatu kali, “Itu yang diajarkan para ulama kita dulu, sekaligus founding fathers Republik ini.” Diskusi semacam ini biasanya dilakukan setelah shalat Maghrib atau Isya berjamaah. Di rumahnya, kami selalu shalat berjamaah di awal waktu, tak pernah terlewat. Pak Zul sendiri yang menjadi imam, bacaan al-Qurannya fasih sekali.

Pak Zul menjalankan puasa daud, sehari puasa dan sehari tidak. Di hari ketika beliau tidak puasa, biasanya saya datang pagi menemani beliau mengaji, lalu lanjut berdiskusi sambil makan siang. Di hari saat jadwal puasa, saya datang menjelang maghrib untuk menemani berbuka puasa.

Tak terasa semua ini sudah saya jalani satu tahun. Mengenal Pak Zul dari dekat, ternyata saya bukan hanya bisa belajar tentang politik dan kepemimpinan seperti niat awal, tapi sekaligus belajar tentang kehidupan—belajar karakter. Pak Zul bagi saya adalah sosok yang tak kenal lelah,  energinya luar biasa, dari habis subuh bisa terima tamu dan berkegiatan sampai lewat tengah malam! Tak jarang Pak Zul hanya mendengarkan keluh kesah orang-orang, lalu memberi jalan keluar untuk mereka.

“Jadi pemimpin itu harus siap menampung keluh kesah dan penderitaan,” ujarnya suatu kali, “Kalau hanya ingin senang dan tidak siap menderita, jangan jadi pemimpin.” Saya mencatat kalimat Pak Zul itu baik-baik. Teringat pernyataan Agus Salim dulu, ‘leiden is lijden’, meminpin itu menderita.

Meski begitu, Pak Zul tak pernah kehilangan cara untuk membangun kebahagiaan dan keriangannya. Hobinya berolahraga menunjukkan energinya yang lain. Dan ternyata keluarga adalah salah satu sumber energi terbesarnya juga: Istri, anak-anak dan cucu-cucunya, selalu terasa rasa cintanya yang begitu besar untuk mereka.

Ya, tak terasa hari ini tepat satu tahun saya mengenal Pak Zul. Sudah banyak sekali inspirasi yang saya ambil dari sosoknya, tapi rasanya baru sedikit sebenarnya yang bisa  saya pelajari. Hari-hari berikutnya masih panjang, semoga saya terus punya kesempatan untuk belajar dari dekat dan ‘ngalap berkah’.

Semalam, saya bermimpi mengobrol dengan Pak Zul. Rupanya sudah masuk ke dalam mimpi. Sudah sedalam itu saya terinspirasi.

Salam baik.

Fahd Pahdepie
Direktur Eksekutif Amanat Institute