Covid-19 dan Peran Media

Penulis:

Arif Yudistira, Tuan Rumah Pondok Filsafat Solo

Di sebuah pagi di hari minggu saya membaca headline koran nasional yang membuat hati saya bertambah cemas. “Media massa luar negeri terus soroti penanganan covid-19 yang buruk”. Kabar duka yang terus berdatangan di tiap harinya membuat kematian seolah bukan lagi hal yang jauh dan asing. Kematian mirip seperti sajak Subagio Sastrowardoyo—semakin akrab. Memang benar bahwa kita hidup sebenarnya antri menunggu mati, tapi semenjak kasus covid-19 meledak seperti bom, kematian seperti arisan, tinggal nunggu giliran.

Korona yang dulu dianggap sebagai candaan dan disepelekan, kali ini tidak lagi. Kemaren orang boleh bilang korona hanya untuk orang kota, kini, orang desa pelosok sekalipun sudah terjamah virus ini. Orang yang menjaga prokes dengan sangat ketat sekalipun masih bisa kena, apalagi yang tidak menjaga prokes.

Saat orang lain terkena korona mungkin kita masih bisa agak lega, namun saat keluarga kita sendiri yang merasakan terjangkit virus ini, maka semua berubah. Semua tidak lagi sama saat korona menyerang. Kebutuhan vitamin apa yang hendak kita makan, minuman apa yang bisa meningkatkan imun tubuh kita, sampai dengan langkah apa yang kita lakukan saat terkena virus ini.

Dalam kondisi terjangkit virus korona, peranan media menjadi amat sangat penting. Media menjadi penolong utama dalam menghadirkan informasi akurat bagaimana sebaiknya menangkal virus ini dan mengatasinya.

Saat istri terjangkit korona, yang pertama saya lakukan adalah bertanya bagaimana pengalaman orang yang terkena virus ini dan berhasil mengatasinya. Di zaman kiwari seperti sekarang, menjadi mustahil mengandalkan pemerintah untuk memberi informasi yang cukup detail berkaitan dengan korona dan cara mengatasinya. Membaca koran justru membuat imun menurun, sebab info kematian dan juga jumlah statistik korban yang mati yang kerap muncul. Melihat informasi di youtube, google dan informasi online belum sepenuhnya menjamin akurasinya.

Ada rasa kecewa sekaligus marah, mengapa informasi mengenai korona tidak bisa diperoleh semudah mungkin. Pemerintah yang selama ini begitu intens mengirim pesan peringatan melalui sms dari lima kementrian sekalipun hanya mengingatkan 5M semata. Kemenkominfo yang menjadi corong bagi informasi yang akurat dan dibutuhkan masyarakat pun hanya sekadar tayang dalam iklan masyarakat kampanye 5M di televisi. Stasiun televisi juga belum banyak yang fokus menyiarkan bagaimana pengalaman para penyintas covid-19 dan sembuh.

Saat seperti ini saya jadi ingat buku yang ditulis oleh Bill Kovach dan Tom Rosenstiel (2003), “intisari jurnalisme adalah disiplin dalam verifikasi. Media saat ini belum sepenuhnya bekerja dalam memberitakan informasi ; apa itu covid-19?, kapan seseorang dinyatakan positif covid-19?, apa yang dilakukan pertama kali saat kita tahu bahwa kita positif covid-19?. Anehnya, informasi akurat dan terpercaya justru didapat dari wawancara tenaga kesehatan atau ahli virus di kanal youtube.

Pengalaman yang saya alami dengan istri saya saat karantina mandiri justru memberi kesan bahwa kita tidak boleh meremehkan adanya virus ini, dan harus tenang menghadapinya. Dalam situasi yang rentan tertular seperti sekarang ini, informasi yang akurat dan benar menjadi kebutuhan kita semua. Selain itu, kita memerlukan informasi yang bernada optimis dan mendukung kita bisa sembuh kembali seperti semula.

Akurasi dan ketepatan dalam memberitakan covid-19 menjadi penting. Sampai saat ini media cenderung mengikuti arus besar tentang jumlah yang terjangkit virus dan korban kematian. Semenjak pertama kali covid muncul, belum ada kabar atau berita yang akurat mengenai bagaimana kita menangkal dan mengatasi saat kita terjangkit virus tersebut. Banyaknya lansia dan korban covid yang berjatuhan itu membuat saya yakin bahwa belum banyak yang tahu bagaimana menangani virus ini. Hal ini terjadi karena belum adanya informasi yang akurat dan tepat yang bisa dijadikan pedoman agar kita bisa mengatasi saat virus ini menyerang kita.

Banyaknya baliho, seruan dan himbauan hanya mengarah pada 5M atau 10M, tapi belum ada baliho dan seruan yang bergambar pejabat, pemerintah, atau instansi negara yang memberi sosialisasi mengenai cara menghadapi virus ini saat ia hinggap di tubuh kita.

Iklan layanan masyarakat sekalipun di koran-koran belum banyak yang ditampilkan secara gencar dan komunikatif yang bisa membantu masyarakat memahami bagaimana langkah preventif dan langkah utama saat virus ini menyerang kita.

Bunyi sirine ambulan, pentung satpol pp saat PPKM serta kesimpangsiuran informasi yang menyebabkan masyarakat bingung menjadi semakin memantapkan keyakinan saya bahwa peranan media menjadi sangat penting.

Dalam situasi yang mencekam, rakyat yang khawatir sekaligus di titik nadir seperti sekarang, fungsi jurnalisme sebagai pemantau kekuasaan menjadi amat penting. Dalam situasi seperti sekarang, pers harus menjadi corong rakyat. Pers harus memantau kekuasaan.

Pandemi saat ini justru membuat pemerintah memanfaatkan situasi yang genting seperti ini untuk melanggengkan oligarki, mengesahkan undang-undang yang tidak berpihak pada rakyat, serta tidak serius dan fokus menangani pandemi. Situasi yang demikian menuntut pers menjadi juru bicara rakyat agar pemerintah serius menangani pandemi.

Di masa seperti sekarang, penting sekali bagi media untuk terus menyuarakan optimisme serta terus menjadi corong untuk rakyat. Media perlu terus mengingatkan dan mengajak masyarakat menjaga prokes secara ketat, namun media juga perlu memberi informasi akurat dan tepat agar semua rakyat yang terjangkit virus korona bisa terus memiliki harapan hidup dan selamat dari kematian. Banyaknya pasien covid-19 yang sudah sembuh perlu diberi ruang di media massa agar semakin banyak orang yang terpapar virus ini bisa optimis dan mengikuti jejak mereka sembuh seperti sediakala.

Kita berharap di era yang penuh dengan informasi hoax, media menjadi penjernih dan pelopor dalam memberikan informasi yang akurat dan tepat dalam memerangi virus korona. Semoga.