Tengah Sebagai Sikap

oleh Faisal Alfansury
Juru Bicara Muda PAN

Pilpres 2019 sudah berlalu hampir 2 tahun, tetapi drama ‘cebong’ dan ‘kampret’ yang sudah hampir memasuki episode terakhir justru malah diperpanjang dengan datangnya episode baru, yang biasa kita dengar dengan ‘buzzer’ vs ‘kadrun’.

Motif dari fenomena tidaklah banyak. Sedikitnya berkutat pada dua hal, yaitu fanatisme dan favoritisme yang disebabkan oleh sindrom pasca pemilu 2019.

Sungguh amat disayangkan apabila pikiran masyarakat Indonesia, khususnya anak muda yang hingga saat ini masih memberi labelling melalui pengkotak-kotakan antara siapa pendukung atau oposisi pemerintah. Tanpa sadar fenomena tersebut membuat kita menjadi kontraproduktif, membatasi sudut pandang, dan bahkan membutakan kita pada warna warni dunia politik.

Rasionalitas Politik

Banyak definisi klasik tentang politik baik yang berasal dari ilmuwan internasional hingga pengamat lokal. Setidaknya kita sepakat bahwa masing-masing dari kita memiliki versi tersendiri tentang politik.

Bagi saya secara teoritis politik tentu erat dengan adanya kekuasaan, pengaruh, hingga keputusan. Tidak hanya dalam konteks ketatanegaraan, dalam kehidupan sehari-hari kita tidak bisa lepas dari politik. Baik untuk merespons, memilih, hingga memutuskan apa yang akan dilakukan, semua bersumber dari proses berpikir kita. Contohnya, sebelum memutuskan apa yang akan kita makan, kita tentu sudah dipengaruhi oleh banyak hal, dan itulah contoh kecil proses berpolitik dalam hidup kita.

Sederhananya, politik adalah segala sesuatu yang dipengaruhi oleh akal sehat. Merujuk pada pemikiran Immanual Kant tentang sumber pemikiran manusia, rasionalisme menjadi salah satu bagian pentingnya yang berasal dari akal sehat, selain dari empirisme yang bersumber dari pengalaman.

Sejatinya, untuk menghasilkan iklim politik yang berkualitas, kita membutuhkan gagasan politik yang objektif dan rasional. Memang tidak ada salahnya memihak berdasarkan pengalaman dan berlandaskan emosionalitas, namun akan lebih produktif saat pilihan kita dijatuhkan atas dasar pertimbangan rasional.

Saya berpendapat bahwa iklim politik yang berkualitas dapat tewujud saat masing-masing dari kita, dan masyarakat Indonesia sepenuhnya dapat bersikap objektif dalam memilih dan memutuskan. Berkah dari demokrasi yang kita rasakan adalah pemilihan langsung, saat rakyat bisa berpartisipasi dengan bebas dan aktif. Sehingga kedaulatan tertinggi tentu berada di tangan rakyat, dan harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.

Mirisnya, fenomena yang saat ini sering kita temui justru menunjukkan hal sebaliknya. Masyarakat sangat emosional dalam berpolitik, mulai dari mudah teradu domba, hingga menciptakan kumpulan masyarakat jenuh yang melandaskan pemikiran politiknya atas dasar favoritisme dan kebencian pada satu hal. Padahal, fenomena tersebut bukanlah rahasia umum dan dapat menjadi bumerang dalam demokrasi. Saat kejadian sejenis post-truth sudah merambah grass root, maka kualitas politik akan menjadi taruhannya.

Tengah, Rasional, dan Bergagasan

Tidak sedikit dari kita yang menilai bahwa dalam politik melulu akan berbicara tentang memilih satu di antara dua pilihan. Ekstrem kanan atau ekstrem kiri. Jika kita hanya membatasi perspektif kita pada dua pilihan tersebut, bisa jadi kita terjebak dalam dimensi realitas politik yang semu. Tidak hanya berbicara tentang ideologi, penempatan sikap akan berdampak pada jati diri hingga kebijakan, terlebih bagi partai politik.

Melihat sejarah, sejatinya Indonesia adalah negara yang ‘tengah’. Para founding fathers kita sudah sangat bijak untuk memilih jalan tengah, yaitu antara nasionalis dan religius. Hal tersebut tentu melalui proses berpikir panjang dan rasionalitas founding fathers bangsa ini. Memang tidak mudah, namun kita sudah final dan sepakat bahwa inilah jalan politik Indonesia.

Dinamika dalam politik adalah hal yang biasa, pun dengan pilihan partai politik untuk memposisikan dirinya baik dalam kubu kiri atau kanan. Namun, di tengah maraknya perdebatan kiri-kanan, kita kadang dilupakan adanya posisi alternatif-berimbang yaitu ‘tengah’.

Tidak banyak partai di Indonesia yang berani untuk menegaskan posisinya dalam spektrum ideologis politik nasional. Saya melihat hingga saat ini banyak partai yang masih malu-malu dan secara implisit menyatakan posisi mereka. Di tengah ‘kegalauan’ identitas, Partai Amanat Nasional (PAN) menjadi partai yang begitu berani untuk secara tegas menunjukkan posisinya.

Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan dalam berbagai kesempatan dengan lantang menegaskan bahwa PAN adalah tengah, PAN berusaha untuk menghadirkan politik tengah yang damai dan santun, menyatukan nasionalis dan religius.

Melihat PAN memilih jalan tengah sebagai gagasan kebangsaan adalah bentuk sikap yang berani dan paling relevan. Karena bagi saya tengah bukanlah abu-abu, tapi tengah adalah sebuah sikap politik yang sangat jelas. PAN tidak terjebak pada kategorisasi, serta memberikan kritik yang disertakan solusi dan hadir dengan gagasan.

Jalan tengah sangatlah tepat, karena saya yakin masih banyak masyarakat yang takut untuk bersuara karena kategorisasi tersebut. Tengah adalah rasional, tengah adalah gagasan, dan memilih berada di tengah tentu telah melalui proses berpikir yang panjang. Sudah menjadi kewajiban kita sebagai masyarakat, untuk mendukung hal-hal baik dan mengkritisi sesuatu yang salah, apalagi merugikan. Bukan di lihat dari kelompok tertentu, tapi apakah itu memberikan manfaat atau merugikan bangsa.